Interview

Pertanyaan HRD Saat Interview: 25 Pertanyaan Tersering dan Jawabannya

Oleh Redaksi Karir Pintar30 Juli 2026

Ilustrasi sesi interview kerja: dua kursi berhadapan dengan meja dan berkas lamaran di atasnya

Pertanyaan HRD saat interview hampir selalu berputar di lima kelompok yang sama: perkenalan, pengalaman kerja, motivasi dan tujuan, kepribadian dan cara kerja, lalu pertanyaan balik di penutup. HRD tidak sedang menguji kemampuan teknis kamu, itu tugas user. Yang ia nilai adalah kecocokan kamu dengan cara kerja perusahaan, kestabilan, dan seberapa masuk akal ekspektasi kamu. Artikel ini merangkum 25 pertanyaan yang paling sering muncul beserta cara menjawabnya, membedah enam pertanyaan yang terlanjur dicap jebakan padahal bukan, dan menjelaskan pertanyaan mana yang secara hukum boleh kamu tolak jawab.

Pertanyaan HRD saat interview: apa yang sebenarnya dinilai

Sebelum menghafal jawaban, pahami dulu siapa yang sedang bertanya. Dalam kebanyakan proses rekrutmen di Indonesia, kamu akan melewati dua meja yang berbeda. HRD (atau recruiter) menyaring lebih dulu, lalu user (calon atasan langsung kamu) menguji kemampuan teknis. Keduanya memakai kata yang mirip tetapi mencari hal yang sama sekali berbeda. Kalau kamu menjawab pertanyaan HRD seolah sedang ujian teknis, jawaban kamu akan terdengar tidak nyambung.

HRD punya empat kepentingan utama: apakah kamu cocok dengan cara kerja dan budaya perusahaan, apakah kamu stabil dan tidak akan resign dalam tiga bulan, apakah ekspektasi kamu (terutama gaji dan penempatan) masuk akal dengan yang bisa mereka tawarkan, dan apakah cerita di CV kamu konsisten saat diucapkan langsung. Pertanyaan teknis yang detail biasanya baru muncul di interview user. Kalau kamu belum kenal peta tahapannya, baca dulu penjelasan lengkap soal interview dan jenis-jenisnya.

Ringkasnya. HRD menilai kecocokan, motivasi, kestabilan, dan ekspektasi. User menilai kemampuan. Satu pertanyaan yang sama bisa punya maksud berbeda tergantung siapa yang menanyakannya, jadi kenali dulu kamu sedang duduk di meja yang mana.

Cara paling cepat untuk berhenti panik adalah menerjemahkan tiap pertanyaan ke maksud aslinya. Hampir semua pertanyaan HRD adalah versi sopan dari satu kekhawatiran yang lebih jujur. Tabel di bawah ini memetakan yang paling sering muncul.

Pertanyaan HRD dan apa yang sebenarnya ingin ia ketahui
Yang ditanyakan HRDYang sebenarnya ingin ia ketahui
Ceritakan tentang diri kamuBisakah kamu meringkas hal penting, dan apakah kamu paham posisi yang kamu lamar
Kenapa keluar dari pekerjaan sebelumnyaApakah pemicu masalahnya akan terbawa ke sini, dan apakah kamu terbiasa menyalahkan orang lain
Apa kekurangan kamuApakah kamu sadar diri dan mau berbenah, bukan apakah kamu sempurna
Di mana kamu lima tahun lagiApakah arah kamu masih masuk akal kalau ditempuh dari posisi ini
Berapa gaji yang kamu harapkanApakah ekspektasi kamu muat di anggaran, dan apakah kamu riset sebelum menyebut angka
Apakah kamu melamar di tempat lainSeberapa cepat kami harus mengambil keputusan sebelum kehilangan kamu
Ceritakan saat kamu gagalApakah kamu bisa mengakui kesalahan dan mengubahnya jadi pelajaran
Bersedia lembur atau ditempatkan di luar kotaApakah realita pekerjaan ini cocok dengan hidup kamu, supaya kamu tidak resign tiga bulan lagi
Ada yang ingin kamu tanyakanSeberapa serius kamu menyiapkan diri untuk peran ini

Sekarang bagian yang jarang dibahas, dan ini pendapat kami yang paling penting di artikel ini: jawaban template yang dihafal kata per kata justru paling gampang ketahuan. HRD mendengar puluhan kandidat per minggu, dan naskah hafalan yang beredar di internet terdengar sangat mirip satu sama lain. Begitu ia bertanya lanjutan satu tingkat lebih dalam, hafalan itu langsung buyar karena tidak ada pengalaman nyata di belakangnya. Jadi pakai daftar di bawah sebagai kerangka berpikir, bukan naskah untuk dihafal mati. Ketahui apa yang dicari dari tiap pertanyaan, lalu isi dengan bahan dari hidup kamu sendiri.

Diagram dua tahap seleksi kerja: meja HRD yang menilai kecocokan dan meja user yang menilai kemampuan teknis
HRD menyaring kecocokan dan kestabilan, user menguji kemampuan teknis. Bedakan keduanya sebelum menyusun jawaban.

Pertanyaan pembuka dan perkenalan (nomor 1 sampai 5)

Lima menit pertama menentukan nada sisa interview. Di fase ini HRD belum menguji apa pun, ia sedang mengecek apakah kamu datang dengan persiapan atau sekadar menembak semua lowongan yang lewat di linimasa.

1. Coba ceritakan tentang diri kamu. Jawab dengan struktur tiga bagian singkat sekitar 60 sampai 90 detik: siapa kamu secara profesional saat ini, satu atau dua bukti pengalaman yang relevan dengan posisi ini, lalu kenapa kamu ada di ruangan itu hari ini. Jangan mulai dari tempat lahir dan urutan sekolah. Karena pertanyaan ini punya banyak cabang dan contoh, kami membahasnya terpisah di panduan perkenalan diri saat interview.

2. Apa yang kamu ketahui tentang perusahaan kami? Sebutkan tiga hal konkret: bidang usahanya, produk atau layanan utamanya, dan satu hal spesifik yang baru (misalnya lini produk baru, ekspansi cabang, atau kampanye terbaru). Lalu sambungkan ke posisi yang kamu lamar. Kandidat yang hanya menjawab bahwa perusahaannya besar dan bonafide sedang mengaku belum membuka situsnya.

3. Dari mana kamu tahu lowongan ini? Terdengar basa-basi, tetapi HRD memakainya untuk mengukur kanal rekrutmen mana yang efektif sekaligus melihat apakah kamu melamar dengan sengaja atau asal. Jawab apa adanya, lalu tambahkan satu kalimat kenapa lowongan itu membuat kamu berhenti dan membacanya sampai habis.

4. Coba jelaskan CV kamu, terutama bagian yang paling relevan. Ini undangan untuk memilih, bukan membaca ulang seluruh dokumen. Ambil satu atau dua peran yang paling dekat dengan lowongan, jelaskan tanggung jawab dan hasilnya, lalu berhenti. Pastikan yang kamu ucapkan konsisten dengan yang tertulis, karena inkonsistensi kecil di sini adalah alasan gugur yang sangat umum. Rapikan dulu dokumennya lewat panduan CV kami sebelum hari H.

5. Bagaimana kamu menggambarkan dirimu dalam tiga kata? Hindari kata sifat kosong seperti pekerja keras, jujur, dan disiplin, karena semua orang mengatakannya. Pilih tiga kata yang bisa langsung kamu buktikan dengan satu contoh pendek, dan pastikan ketiganya relevan dengan pekerjaan itu. Teliti dan sabar masuk akal untuk staf finance, tetapi kurang menjual untuk sales.

Pertanyaan tentang pengalaman kerja dan alasan pindah (nomor 6 sampai 12)

Ini kelompok terbesar dan paling menentukan. HRD sedang mengecek satu hal: apakah pola kerja kamu di masa lalu akan berulang di sini. Bagian yang bagus akan diulang, bagian yang buruk juga.

6. Ceritakan pengalaman kerja kamu yang paling relevan dengan posisi ini. Pakai kerangka situasi, tugas, aksi, hasil. Sebutkan konteksnya sebentar, tanggung jawab kamu, apa yang benar-benar kamu kerjakan (bukan yang tim kerjakan), lalu hasilnya. Kalau punya angka nyata dari pekerjaan kamu, sebutkan. Kalau tidak punya, jangan mengarang, cukup jelaskan perubahan yang terjadi.

7. Kenapa kamu keluar dari pekerjaan sebelumnya? Jawab singkat, netral, dan berorientasi ke depan. Sebutkan alasan struktural (ingin ruang berkembang yang lebih luas, perubahan arah perusahaan, kontrak selesai, relokasi), lalu segera pindahkan fokus ke apa yang kamu cari sekarang. Jangan pernah menjelekkan bekas atasan atau rekan kerja, sepahit apa pun ceritanya. Bukan karena harus munafik, tetapi karena HRD tidak punya cara memverifikasi versi kamu, jadi ia hanya melihat bahwa kamu bersedia menjelekkan tempat kerja di depan orang asing.

8. Kenapa ada jeda di riwayat kerja kamu? Jawab jujur dan tanpa minta maaf berlebihan. Jeda karena mengurus keluarga, sakit, kena efisiensi perusahaan, atau mencari arah baru adalah hal yang wajar dan sangat umum. Yang dinilai bukan ada atau tidaknya jeda, melainkan apakah kamu bisa menceritakannya dengan tenang dan apakah kamu tetap melakukan sesuatu selama itu, misalnya kursus, proyek lepas, atau kerja freelance.

9. Apa pencapaian yang paling kamu banggakan? Pilih pencapaian yang mirip dengan tantangan di posisi baru, bukan yang paling megah. Cerita kecil yang relevan mengalahkan cerita besar yang tidak nyambung. Jelaskan juga kenapa itu sulit, karena tanpa konteks kesulitan, sebuah hasil terdengar seperti keberuntungan.

10. Ceritakan saat kamu gagal atau melakukan kesalahan besar. Pilih kegagalan yang nyata tetapi sudah selesai dan sudah kamu perbaiki, lalu habiskan sebagian besar waktu di bagian pelajaran dan perubahan perilaku setelahnya. Jawaban belum pernah gagal adalah jawaban terburuk di seluruh daftar ini, karena artinya kamu tidak pernah mengambil tanggung jawab yang cukup besar, atau kamu tidak jujur.

11. Bagaimana hubungan kamu dengan atasan sebelumnya? Jawab dengan deskripsi gaya kerja, bukan penilaian karakter. Misalnya, atasan kamu suka arahan tertulis dan kamu menyesuaikan diri dengan membuat ringkasan mingguan. Ini memberi HRD informasi yang ia butuhkan (kamu bisa beradaptasi) tanpa kamu perlu mengeluh.

12. Kenapa kamu cukup sering pindah kerja? Kalau riwayat kamu memang pendek-pendek, dahului sebelum ditanya. Kelompokkan perpindahan itu jadi satu narasi yang punya arah (misalnya tiga peran yang makin mengerucut ke satu spesialisasi), lalu tutup dengan alasan kenapa posisi ini adalah tempat kamu ingin menetap lebih lama. Menetap tanpa alasan tidak meyakinkan, menetap karena pekerjaannya cocok jauh lebih dipercaya.

Pro Tip. Siapkan tiga cerita kerja yang bisa didaur ulang untuk banyak pertanyaan: satu cerita keberhasilan, satu cerita kegagalan, dan satu cerita konflik yang selesai baik. Dari tiga bahan ini kamu bisa menjawab setidaknya delapan pertanyaan berbeda. Ini jauh lebih efisien daripada menghafal 25 jawaban terpisah, dan hasilnya terdengar lebih hidup karena memang berasal dari pengalaman kamu.

Pertanyaan motivasi, tujuan, dan ekspektasi (nomor 13 sampai 18)

Kelompok ini adalah inti pekerjaan HRD. Di sinilah ia memutuskan apakah kamu akan bertahan dan apakah tawaran mereka realistis untuk kamu.

13. Kenapa kamu melamar di perusahaan ini, apa motivasi kerja kamu? Kaitkan tiga lapis: apa yang menarik dari perusahaan atau produknya, kenapa peran ini cocok dengan keahlian kamu, dan ke mana ini membawa kamu dalam jangka panjang. Karena jawaban ini sering bocor jadi klise, kami mengupasnya lengkap dengan contoh di panduan menjawab motivasi kerja.

14. Berapa gaji yang kamu harapkan? Sebutkan rentang berbasis riset, bukan satu angka mati dan bukan jawaban mengambang seperti mengikuti standar perusahaan. Pastikan kamu tahu lebih dulu apakah yang dibicarakan gaji kotor atau bersih. Strategi lengkap, termasuk cara membentuk rentangnya dan cara menegosiasi setelah penawaran turun, ada di panduan gaji yang diharapkan. Untuk membentuk angkanya, bandingkan dulu acuan gaji per profesi dan hitung take home pay-nya dengan kalkulator gaji bersih.

15. Di mana kamu melihat dirimu lima tahun ke depan? HRD tidak sedang meminta ramalan. Ia mengecek apakah arah kamu bisa ditempuh dari kursi ini. Jawab dengan kemampuan dan tanggung jawab yang ingin kamu miliki, bukan daftar jabatan. Hindari jawaban yang jelas-jelas meninggalkan mereka, misalnya ingin buka usaha sendiri dalam dua tahun. Kalau kamu ingin menyusun jawaban yang nyambung antara pekerjaan dan rencana jangka panjang, lihat cara menjelaskan pekerjaan yang mendukung rencana karir.

16. Kenapa kami harus memilih kamu dibanding kandidat lain? Kamu tidak tahu siapa kandidat lain, jadi jangan membandingkan. Jawab dengan kecocokan: sebutkan dua atau tiga syarat kunci di lowongan itu, lalu pasangkan masing-masing dengan bukti dari pengalaman kamu. Ini pertanyaan paling murah hati di seluruh interview, karena ia mempersilakan kamu merangkum sendiri kenapa kamu layak. Merendah berlebihan di sini adalah kesempatan yang terbuang.

17. Apakah kamu sedang melamar di perusahaan lain? Jawab jujur tanpa detail nama perusahaan. Melamar di beberapa tempat itu wajar dan HRD tahu itu. Yang ia butuhkan sebenarnya informasi jadwal: apakah ia punya waktu dua minggu atau harus memutuskan pekan ini. Berbohong di sini berisiko, karena kalau nanti kamu minta perpanjangan waktu untuk menimbang tawaran lain, kebohongannya terbuka sendiri di saat paling genting.

18. Kapan kamu bisa mulai bekerja? Sebutkan tanggal yang realistis, dengan menghitung kewajiban di tempat lama (misalnya one month notice) kalau kamu masih bekerja. Jangan menjanjikan bisa besok kalau kamu masih terikat, karena kesediaan meninggalkan kewajiban di kantor lama justru terbaca sebagai risiko oleh HRD yang teliti.

Pertanyaan kepribadian, cara kerja, dan penutup (nomor 19 sampai 25)

Kelompok terakhir menguji bagaimana kamu berperilaku sehari-hari saat pekerjaan tidak berjalan mulus, lalu ditutup dengan giliran kamu bertanya.

19. Apa kelebihan dan kekurangan kamu? Sebutkan kelebihan yang relevan dengan posisi dan sertai bukti singkat, lalu kekurangan yang nyata tetapi tidak fatal untuk pekerjaan itu, ditutup dengan langkah perbaikan yang sedang berjalan. Jauhi klise terlalu perfeksionis dan terlalu detail. Contoh jawaban yang jujur tetapi tetap aman kami bahas di artikel kelebihan dan kekurangan saat interview.

20. Kamu lebih suka bekerja sendiri atau dalam tim? Ini bukan tes untuk memilih salah satu. Jawaban terbaik menunjukkan kamu tahu kapan masing-masing dipakai: pekerjaan yang butuh konsentrasi dalam kamu kerjakan sendiri, keputusan yang menyangkut banyak pihak kamu bawa ke tim. Sesuaikan penekanannya dengan sifat pekerjaan yang dilamar.

21. Bagaimana kamu menghadapi tekanan dan tenggat waktu? Jangan menjawab dengan sifat (saya tahan banting), jawab dengan metode. Ceritakan sistem konkret yang kamu pakai: cara menentukan prioritas saat semua mendesak, kapan kamu mengabari atasan bahwa target berisiko meleset, dan bagaimana kamu memecah pekerjaan besar. Metode bisa diverifikasi, sifat tidak.

22. Ceritakan saat kamu berkonflik dengan rekan kerja. Fokuskan cerita pada perbedaan pendekatan, bukan perbedaan pribadi. Jelaskan langkah kamu mencari titik temu, keputusan akhirnya, dan bagaimana hubungan kerja setelahnya tetap sehat. Menjawab tidak pernah berkonflik terdengar seperti kamu menghindari percakapan sulit, dan itu bukan pujian di mata HRD.

23. Apakah kamu bersedia lembur atau ditempatkan di luar kota? Jawab jujur sesuai kondisi kamu, dan tanyakan balik seberapa sering itu terjadi. Mengiyakan sesuatu yang tidak sanggup kamu jalani hanya menunda masalah sampai bulan ketiga. Kalau ada batasan nyata, sampaikan sekarang beserta solusinya, misalnya bersedia perjalanan dinas berkala tetapi tidak untuk relokasi permanen. Kalau posisinya jarak jauh, pahami dulu konsekuensinya lewat penjelasan kerja remote.

24. Apa hal baru yang kamu pelajari belakangan ini? Pertanyaan ini mengukur apakah kamu masih tumbuh. Sebutkan satu hal spesifik dari enam bulan terakhir beserta cara kamu mempelajarinya dan apa yang berubah dari cara kerja kamu setelahnya. Kursus yang tidak mengubah apa pun kurang meyakinkan dibanding keterampilan kecil yang benar-benar kamu pakai.

25. Apakah ada yang ingin kamu tanyakan kepada kami? Selalu ada. Menjawab tidak ada adalah cara tercepat menutup interview dengan kesan datar. Siapkan tiga pertanyaan untuk HRD, dan pilih yang menunjukkan kamu membayangkan diri bekerja di sana: seperti apa ukuran keberhasilan di posisi ini pada enam bulan pertama, bagaimana bentuk timnya dan kepada siapa posisi ini melapor, serta bagaimana tahap seleksi berikutnya dan kapan kabarnya. Simpan pertanyaan soal cuti, bonus, dan fasilitas untuk tahap penawaran, bukan tahap penyaringan.

6 pertanyaan jebakan interview HRD, dan kenapa kebanyakan bukan jebakan

Istilah pertanyaan jebakan beredar luas, dan menurut kami istilah itu lebih banyak merugikan kandidat daripada menolong. Ia membuat orang masuk ruangan dengan sikap defensif, curiga pada pertanyaan yang sebenarnya biasa saja, lalu menjawab dengan hati-hati sampai terdengar tidak jujur. Padahal dari enam pertanyaan yang paling sering dicap jebakan, hampir semuanya adalah pertanyaan wajar yang cuma disalahpahami.

Jebakan yang sebenarnya bukan pada pertanyaannya, melainkan pada satu jawaban refleks yang biasanya menyertainya. Begitu kamu tahu jawaban refleks mana yang harus dihindari, pertanyaannya berhenti menakutkan.

Enam pertanyaan yang dicap jebakan dan kenyataannya
PertanyaanKenapa sebenarnya bukan jebakanYang benar-benar membuat kamu gugur
Kenapa keluar dari kantor lamaHRD wajib memastikan pemicunya tidak akan berulang di siniMenjelekkan bekas atasan atau rekan kerja panjang lebar
Ceritakan kegagalan terbesar kamuIa mengukur kemampuan refleksi, bukan mengumpulkan amunisiMenjawab belum pernah gagal, atau menyamarkan pamer sebagai kegagalan
Apa kekurangan kamuUji kesadaran diri yang sama, dengan bungkus berbedaKlise terlalu perfeksionis yang sudah didengar ratusan kali
Di mana kamu lima tahun lagiIa mengecek apakah arah kamu nyambung dengan peran iniRencana yang jelas meninggalkan perusahaan dalam waktu dekat
Apakah kamu melamar di tempat lainIni pertanyaan jadwal, bukan tes kesetiaanBerbohong, lalu ketahuan sendiri saat minta waktu menimbang tawaran
Kenapa kami harus memilih kamuIni kesempatan menutup penjualan, bukan jebakanMerendah berlebihan atau menjelekkan kandidat lain yang tidak kamu kenal

Perhatikan polanya. Empat dari enam gugur bukan karena kandidat kurang pintar, tetapi karena ia mencoba terdengar sempurna. HRD tidak mencari kandidat tanpa cacat, ia mencari orang yang sadar akan kekurangannya dan bisa dipercaya untuk mengatakan hal yang tidak enak lebih awal. Itu keterampilan kerja yang nyata, dan interview adalah tempat pertama mereka mengujinya.

Ilustrasi timbangan yang membandingkan jawaban hafalan dengan jawaban berbasis pengalaman nyata
Kerangka berpikir lebih tahan pertanyaan lanjutan daripada naskah hafalan.

Pertanyaan yang boleh kamu tolak jawab

Bagian ini jarang ada di daftar pertanyaan interview mana pun, padahal penting. Tidak semua pertanyaan yang keluar dari mulut HRD layak dijawab. Sebagian menyentuh hal yang tidak ada hubungannya dengan kemampuan kamu bekerja, dan hukum ketenagakerjaan Indonesia berpihak pada kamu di titik ini.

Setiap tenaga kerja memiliki kesempatan yang sama tanpa diskriminasi untuk memperoleh pekerjaan.- Pasal 5 UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
DATA RESMI Dasar hukumnya. Penjelasan Pasal 5 UU Nomor 13 Tahun 2003 menegaskan setiap tenaga kerja punya hak dan kesempatan yang sama memperoleh pekerjaan tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, dan aliran politik, termasuk perlakuan yang sama terhadap penyandang cacat. Pasal 32 ayat (1) mengatur penempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asas terbuka, bebas, obyektif, serta adil dan setara tanpa diskriminasi, dan penjelasannya mendefinisikan adil dan setara sebagai penempatan berdasarkan kemampuan tenaga kerja, bukan berdasarkan ras, jenis kelamin, warna kulit, agama, dan aliran politik. Kedua pasal ini tidak diubah oleh UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, jadi keduanya masih berlaku.

Artinya, pertanyaan soal agama yang kamu anut, suku atau asal daerah, warna kulit, afiliasi politik, dan jenis kelamin tidak punya dasar untuk dijadikan alat seleksi, kecuali memang ada persyaratan jabatan yang sah dan relevan. Hal yang sama berlaku untuk status pernikahan dan kehamilan. Undang-undang yang sama, pada Pasal 153 ayat (1) versi terbaru setelah diubah UU Cipta Kerja, melarang pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja menikah, hamil, melahirkan, gugur kandungan, menyusui, atau karena status perkawinan, dan menyatakan PHK dengan alasan tersebut batal demi hukum. Kalau memecat karenanya saja dilarang, menyaring kandidat di depan atas dasar yang sama jelas berjalan melawan semangat aturan itu.

Lalu bagaimana kalau pertanyaannya tetap keluar? Jujur saja, di lapangan pertanyaan seperti ini masih sering terdengar, dan kamu tidak wajib mengubah interview jadi ruang sidang. Cara paling aman adalah mengalihkan ke kepentingan kerja yang ada di balik pertanyaan itu. Kalau ditanya rencana menikah atau punya anak, kamu bisa menjawab bahwa kamu berkomitmen penuh pada tanggung jawab posisi ini dan menanyakan balik apakah ada kekhawatiran soal ketersediaan waktu yang bisa kamu jelaskan. Kalau ditanya soal agama atau suku, kamu boleh menyampaikan dengan sopan bahwa kamu lebih nyaman fokus pada kualifikasi dan pengalaman kerja. Kamu berhak menolak, dan itu bukan sikap kurang ajar.

Perhatikan juga apa yang terjadi setelah kamu menolak. Reaksi pewawancara adalah data berharga tentang tempat itu. Perusahaan yang sehat akan menerima batasan kamu dan kembali ke topik pekerjaan. Kalau justru memaksa atau tersinggung, kamu baru saja mendapat informasi penting tanpa perlu masuk ke sana lebih dulu. Setelah persiapan jawaban beres, rapikan sisanya: pastikan pakaian interview kamu sesuai, dan pelajari cara membalas panggilan interview dengan rapi. Kalau kamu ingin melatih jawaban untuk posisi yang spesifik, coba AI Career Coach kami, atau langsung konsultasi karir bersama tim kami.

Sumber

Setiap angka di artikel ini dapat Anda telusuri ke sumber resmi berikut.

  1. UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (Pasal 5, Pasal 6, Pasal 32, Pasal 153 beserta penjelasannya) - JDIH Badan Pemeriksa Keuangan RI, 25 Maret 2003
  2. UU Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja (Pasal 81, perubahan Pasal 153 UU Ketenagakerjaan; Pasal 5, 6, dan 32 tidak diubah) - JDIH Badan Pemeriksa Keuangan RI, 31 Maret 2023
Pertanyaan umum

FAQ

Jawaban singkat untuk pertanyaan yang paling sering muncul.

Berapa banyak pertanyaan yang biasanya diajukan HRD saat interview?

Umumnya 8 sampai 15 pertanyaan dalam sesi 30 sampai 60 menit, diambil dari kelompok yang sama: perkenalan, pengalaman kerja, motivasi, kepribadian, dan penutup. Jumlahnya tidak sepenting kedalamannya. HRD sering hanya menggali dua atau tiga pertanyaan sampai beberapa lapis ke bawah, dan di lapisan itulah jawaban hafalan biasanya runtuh.

Apakah pertanyaan HRD sama di semua perusahaan?

Inti pertanyaannya sangat mirip di mana-mana karena kekhawatiran HRD sama: kecocokan, kestabilan, motivasi, dan ekspektasi. Yang berbeda adalah penekanannya. Startup cenderung mengejar adaptasi dan inisiatif, perusahaan besar lebih menekankan proses dan kepatuhan, sementara posisi lapangan banyak menanyakan kesediaan penempatan.

Apakah jawaban interview boleh dihafal?

Sebaiknya tidak dihafal kata per kata. Naskah hafalan gampang ketahuan karena nadanya berbeda dari percakapan biasa dan langsung buyar saat ada pertanyaan lanjutan. Yang perlu kamu siapkan adalah kerangkanya (apa yang dicari dari tiap pertanyaan) plus tiga cerita kerja nyata yang bisa didaur ulang untuk banyak pertanyaan.

Apa pertanyaan jebakan interview HRD yang paling sering muncul?

Enam yang paling sering dicap jebakan: alasan keluar dari kantor lama, kegagalan terbesar, kekurangan diri, rencana lima tahun, apakah sedang melamar di tempat lain, dan kenapa kami harus memilih kamu. Jujur saja, hampir semuanya bukan jebakan. Yang menggugurkan kandidat biasanya jawaban refleksnya, misalnya menjelekkan bekas atasan atau mengaku belum pernah gagal.

Apa pertanyaan yang bagus untuk ditanyakan ke HRD di akhir interview?

Tiga yang aman sekaligus menunjukkan keseriusan: seperti apa ukuran keberhasilan di posisi ini pada enam bulan pertama, bagaimana bentuk tim dan kepada siapa posisi ini melapor, serta bagaimana tahap seleksi berikutnya dan kapan kabarnya. Tunda pertanyaan soal cuti, bonus, dan fasilitas sampai tahap penawaran.

Apakah HRD boleh menanyakan agama, suku, atau status pernikahan saya?

Pertanyaan seperti itu tidak punya dasar untuk dijadikan alat seleksi. Penjelasan Pasal 5 UU Nomor 13 Tahun 2003 menjamin kesempatan kerja yang sama tanpa membedakan jenis kelamin, suku, ras, agama, dan aliran politik, dan Pasal 32 mengatur penempatan tenaga kerja harus adil dan setara berdasarkan kemampuan. Kamu boleh menolak dengan sopan dan mengembalikan pembicaraan ke kualifikasi serta pengalaman kerja.

Bagaimana kalau saya tidak tahu jawaban dari pertanyaan HRD?

Katakan apa adanya, lalu tunjukkan cara berpikir kamu. Kalimat seperti saya belum pernah menangani situasi itu, tetapi kalau menghadapinya saya akan memulai dari langkah ini jauh lebih baik daripada mengarang. HRD lebih menghargai kejujuran yang disertai penalaran, dan mengarang jawaban berisiko besar karena pertanyaan lanjutan akan membongkarnya.

Terkait

Artikel lain yang mungkin berguna

Lanjutkan membaca topik yang berdekatan.

Surat Panggilan Interview: Contoh, Isi Wajib, dan Cara Memastikan Keasliannya

Surat panggilan interview adalah pemberitahuan resmi dari perusahaan bahwa lamaranmu lolos seleksi berkas dan kamu diundang ke tahap wawancara.

Baca artikel
Interview

Cara Membalas Panggilan Interview via WhatsApp dan Email: Contoh Balasan Sopan

Cara membalas undangan interview via WhatsApp atau email sebenarnya sederhana: balas di hari yang sama, sebut ulang posisi yang kamu lamar, nyatakan kesediaan.

Baca artikel
Interview

Pakaian Interview Kerja: Panduan Outfit untuk Pria dan Wanita

Pakaian interview kerja yang tepat adalah pakaian yang rapi, warnanya netral, dan kira-kira satu tingkat lebih formal daripada pakaian harian orang di kantor.

Baca artikel
Interview
Butuh bantuan lebih lanjut?

Masih ada yang mengganjal soal interview?

Kirim pertanyaan Anda. Kami bantu jawab dengan acuan data resmi, bukan tebakan.

Tanya via WhatsApp
โ† Kembali ke semua artikel